Monday, February 20, 2017

SECANGKIR KOPI di MARS


What the fuq...
 



      Aku ingin memberikan standing applause buat jaman ini. Buat segala ketololan murninya. Ketololan yang sudah menjadi viral, disegala sendi-sendi bumi ini. Memotivasiku untuk menjadi seorang yang kaya berat, seberat perut sang mantan yang sudah berumur 2 bulan.
Aku ingin kaya, juga supaya kekayaan itu bisa membawaku terbang jauh ke planet Mars. Katanya di planet Mars permukaannya basah; 
aku bisa beternak babi disana. Tak susah-susah buat belanja kebumi lagi.
Udara yang hangat; aku bisa telanjang dada, tanpa ada yang mengira aku pamer tubuh atletisku yang belum jadi, ataupun seakan mengklaim bahwa diri adalah preman setempat (situasi yang kudapati. kupelajari dikota medan bila bertelanjang dada sudah dianggap orang sekitar sebagai preman, yang nyata-nyatanya suhu panas Medanlah yang menjadi pangkal masalahnya).
Tumbuhan bisa berfotosintetis; terbayang dibenakku untuk bercocok tanam, diantaranya padi, cabai, dan paling utama pohon kopi. Yap kopi.
Terbentuknya air; aku juga butuh mandi, aku juga harus mengkucek dua pasang pakaian yang kubawa, dan menyajikan secangkir kopi. Yang paling kuperlukan.

Disini, dibumi, diwarung asal jadi ini, secangkir kopi yang seharusnya kunikmati dengan lantunan tembang kenangan, harus diusik oleh segerombolan generasi-generasi yang haus akan ketololan. Generasi-generasi yang silih berganti datangnya, tak pernah padam. Memaksa lambungku yang sudah diserang bertubi-tubi bercangkir-cangkir kopi menjadi mual. Aku tak bisa lagi tertawa sindir karena sudah bosan.

         Aku harus ke Mars saat ini juga. Tak peduli dengan gravitasi, yang saat kunikmati secangkir kopi, mengambang bersama lengkap meja dan kursi. Tak peduli dengan temperatur disana, aku bisa meminjam kulkas Mamaku merek panasonik. Tak peduli dengan radiasi atau apapun halangan lainnya. Intinya aku ingin pergi ke Mars. Menikmati secangkir kopi sambil memandang bumi. Memetikkan lagu-lagu tembang kenangan, juga gubahanku dan sesekali tertawa.

Barangkali kujumpai sewujud Alien desa yang cantik, yang lari dari kawanannya, yang sepemikiran denganku. Dan kami memadu kasih, kuiringi dengan gitar lantunan nyanyiannya yang hanya berupa anggukan. Hingga akhirnya kami melakukan hal itu. Mempunyai seorang anak, Anak dengan kemampuan laser pemusnah dari ujung telunjuknya. Yang sangat patuh terhadap orangtua. Mungkin akan kusuruh dia untuk menjaga bumi, menjaga bumi dari meteor-meteor besar yang siap menghantamnya. Agar bumi aman, agar ketololan-ketololan itu dapat terpelihara dengan baik.

    Hampir saja aku lupa, lupa tentang skripsiku ini. Batu loncatanku menuju kekayaan. Dengan waktu yang semakin menipis dicicil setiap pertemuan. Berkopi-kopi sudah habis namun Bab demi Bab belum tersentuh.
Ah tololnya aku..........

0 comments:

Post a Comment