![]() | |
| notacavir |
----Warung kopi, selain secangkir kopi, aku juga disuguhi oleh berlimpah ruah kuota wifi, gratiss pula. Diiringi silat lidah para tetua yang samar kudengar----
Apa kabar kawan. Apa kabar disana, para
kawanan kawan. Sudah lama kita tidak ber-umpat ria. Saling meneriaki
penuh kata yang semestinya tertuju pada lawan, tapi tersemat kepada
kawan, dengan canda gurauan..
Aku benci bila harus menunggu rindu, rindu yang mekar silih berganti hari. Menunggu tentang masa dimana semuanya sudah tersiapkan olehku.
Saat beban pikiranku sudah terkikis sedikit demi sedikit. Saat pikiran
tak banyak menopang masalah lagi. Disitulah pasti kegilaan-kegilaan yang
kita rindui terbalaskan tanpa takut disekat waktu. Sebait 'hahaha'
untukmu. Tunggu saja sampai kutuntaskan kewajiban ini. Sampai habis
sudah perjuanganku berbuah hasil. Sampai secangkir kopi ini juga punya
kawan. Agar tak bosan berteman dengan sendok dan piring kecil (sudah berkali-kali kupesan agar sendok tidak usah ikut, apalagi piring kecil, mampus saja sekalian!).
----*Aku tak butuh teman sejati, yang menurutku hanya ada di serial kartun 'SPONGEBOB'. Aku tak ingin jadiPatrick, yang kadang lupa akan kawannya. Aku tak ingin jadiSpongebob, yang kadang menghindar dari si bodoh Patrick. Aku tak ingin jadiSquidward, yang tak butuh keduanya. Aku hanya ingin jadi Presiden*----
Kawan... Diwarung ini aku terngeong
(terngeong: bersuara sekecil bisikan dengan pandangan kosong). Aku terus
menikmati eonganku hingga terusik oleh pandangannya; dia yang
mengantarkan secangkir kopi ke mejaku. Seorang gadis desa, yang bekerja
sampai jam 12 pas, yang tutur bahasanya membuatku terpekik dalam hati,
yang mencari-cari saat aku tak hadir dalam shift kerjanya.
Aku masih saja menerawang makna pandangannya. Untuk kali ini, pandangan yang dilepaskan beberapa detik padaku itu hampir tanpa senyuman. Berbeda dengan siGendut temannya, yang acapkali memandang selalu diiringi
dengan senyuman ala Mia Khalifa . Seakan lupa bahwa dia seorang pria..
Aku masih saja menerawang makna pandangannya. Untuk kali ini, pandangan yang dilepaskan beberapa detik padaku itu hampir tanpa senyuman. Berbeda dengan si
----Gadis itu, barangkali dia jatuh hati atau apapun itu namanya. Caranya memandangku, seakan butuh, tapi enggan; seakan acuh, tapi penasaran. Mungkin dia berpikir, "Abang tampan yang disudut itu, kali ini bayar apa enggak sih?".----
Kawan, kalian itu seperti secangkir kopi. Mau berapapun harganya, pasti kubeli. Sepahit apapun rasanya, pasti kusesapi.
Untukmu kawan, aku saat ini sedang baik-baik saja. Hanya saja, kantongku sedikit bermasalah, entah karna sobekannya yang semakin melebar, atau karna kalender dikamarku yang semakin menanggal.
Untukmu kawan, aku saat ini sedang baik-baik saja. Hanya saja, kantongku sedikit bermasalah, entah karna sobekannya yang semakin melebar, atau karna kalender dikamarku yang semakin menanggal.
Entahlah...

abang jarang nulis tapi tulisannya bagus, (Y)
ReplyDeletemaksudnya?
DeletePujangga kopi ������
ReplyDeleteSastrawan muda :D
ReplyDeleteSastrawan muda :D
ReplyDeleteI am your new fans by reading this passage. I love it
ReplyDeleteThanks Yohana. ☺
Delete