Friday, February 24, 2017

BERITA KEPADA KAWAN

notacavir



----Warung kopi, selain secangkir kopi, aku juga disuguhi oleh berlimpah ruah kuota wifi, gratiss pula. Diiringi silat lidah para tetua yang samar kudengar----

Apa kabar kawan. Apa kabar disana, para kawanan kawan. Sudah lama kita tidak ber-umpat ria. Saling meneriaki penuh kata yang semestinya tertuju pada lawan, tapi tersemat kepada kawan, dengan canda gurauan..

Aku benci bila harus menunggu rindu, rindu yang mekar silih berganti hari. Menunggu tentang masa dimana semuanya sudah tersiapkan olehku. Saat beban pikiranku sudah terkikis sedikit demi sedikit. Saat pikiran tak banyak menopang masalah lagi. Disitulah pasti kegilaan-kegilaan yang kita rindui terbalaskan tanpa takut disekat waktu. Sebait 'hahaha' untukmu. Tunggu saja sampai kutuntaskan kewajiban ini. Sampai habis sudah perjuanganku berbuah hasil. Sampai secangkir kopi ini juga punya kawan. Agar tak bosan berteman dengan sendok dan piring kecil (sudah berkali-kali kupesan agar sendok tidak usah ikut, apalagi piring kecil, mampus saja sekalian!).
----*Aku tak butuh teman sejati, yang menurutku hanya ada di serial kartun 'SPONGEBOB'. Aku tak ingin jadi Patrick, yang kadang lupa akan kawannya. Aku tak ingin jadi Spongebob, yang kadang menghindar dari si bodoh Patrick. Aku tak ingin jadi Squidward, yang tak butuh keduanya. Aku hanya ingin jadi Presiden*----

Kawan... Diwarung ini aku terngeong (terngeong: bersuara sekecil bisikan dengan pandangan kosong). Aku terus menikmati eonganku hingga terusik oleh pandangannya; dia yang mengantarkan secangkir kopi ke mejaku. Seorang gadis desa, yang bekerja sampai jam 12 pas, yang tutur bahasanya membuatku terpekik dalam hati, yang mencari-cari saat aku tak hadir dalam shift kerjanya.
Aku masih saja menerawang makna pandangannya. Untuk kali ini, pandangan yang dilepaskan beberapa detik padaku itu hampir tanpa senyuman. Berbeda dengan si Gendut temannya, yang acapkali memandang selalu diiringi dengan senyuman ala Mia Khalifa . Seakan lupa bahwa dia seorang pria..

----Gadis itu, barangkali dia jatuh hati atau apapun itu namanya. Caranya memandangku, seakan butuh, tapi enggan; seakan acuh, tapi penasaran. Mungkin dia berpikir, "Abang tampan yang disudut itu, kali ini bayar apa enggak sih?".----

Kawan, kalian itu seperti secangkir kopi. Mau berapapun harganya, pasti kubeli. Sepahit apapun rasanya, pasti kusesapi.
Untukmu kawan, aku saat ini sedang baik-baik saja. Hanya saja, kantongku sedikit bermasalah, entah karna sobekannya yang semakin melebar, atau karna kalender dikamarku yang semakin menanggal.
Entahlah...

Monday, February 20, 2017

SECANGKIR KOPI di MARS


What the fuq...
 



      Aku ingin memberikan standing applause buat jaman ini. Buat segala ketololan murninya. Ketololan yang sudah menjadi viral, disegala sendi-sendi bumi ini. Memotivasiku untuk menjadi seorang yang kaya berat, seberat perut sang mantan yang sudah berumur 2 bulan.
Aku ingin kaya, juga supaya kekayaan itu bisa membawaku terbang jauh ke planet Mars. Katanya di planet Mars permukaannya basah; 
aku bisa beternak babi disana. Tak susah-susah buat belanja kebumi lagi.
Udara yang hangat; aku bisa telanjang dada, tanpa ada yang mengira aku pamer tubuh atletisku yang belum jadi, ataupun seakan mengklaim bahwa diri adalah preman setempat (situasi yang kudapati. kupelajari dikota medan bila bertelanjang dada sudah dianggap orang sekitar sebagai preman, yang nyata-nyatanya suhu panas Medanlah yang menjadi pangkal masalahnya).
Tumbuhan bisa berfotosintetis; terbayang dibenakku untuk bercocok tanam, diantaranya padi, cabai, dan paling utama pohon kopi. Yap kopi.
Terbentuknya air; aku juga butuh mandi, aku juga harus mengkucek dua pasang pakaian yang kubawa, dan menyajikan secangkir kopi. Yang paling kuperlukan.

Disini, dibumi, diwarung asal jadi ini, secangkir kopi yang seharusnya kunikmati dengan lantunan tembang kenangan, harus diusik oleh segerombolan generasi-generasi yang haus akan ketololan. Generasi-generasi yang silih berganti datangnya, tak pernah padam. Memaksa lambungku yang sudah diserang bertubi-tubi bercangkir-cangkir kopi menjadi mual. Aku tak bisa lagi tertawa sindir karena sudah bosan.

         Aku harus ke Mars saat ini juga. Tak peduli dengan gravitasi, yang saat kunikmati secangkir kopi, mengambang bersama lengkap meja dan kursi. Tak peduli dengan temperatur disana, aku bisa meminjam kulkas Mamaku merek panasonik. Tak peduli dengan radiasi atau apapun halangan lainnya. Intinya aku ingin pergi ke Mars. Menikmati secangkir kopi sambil memandang bumi. Memetikkan lagu-lagu tembang kenangan, juga gubahanku dan sesekali tertawa.

Barangkali kujumpai sewujud Alien desa yang cantik, yang lari dari kawanannya, yang sepemikiran denganku. Dan kami memadu kasih, kuiringi dengan gitar lantunan nyanyiannya yang hanya berupa anggukan. Hingga akhirnya kami melakukan hal itu. Mempunyai seorang anak, Anak dengan kemampuan laser pemusnah dari ujung telunjuknya. Yang sangat patuh terhadap orangtua. Mungkin akan kusuruh dia untuk menjaga bumi, menjaga bumi dari meteor-meteor besar yang siap menghantamnya. Agar bumi aman, agar ketololan-ketololan itu dapat terpelihara dengan baik.

    Hampir saja aku lupa, lupa tentang skripsiku ini. Batu loncatanku menuju kekayaan. Dengan waktu yang semakin menipis dicicil setiap pertemuan. Berkopi-kopi sudah habis namun Bab demi Bab belum tersentuh.
Ah tololnya aku..........