Sunday, April 2, 2017

Senandung Asap Rokok: Aku vs Bapak

Saat itu...
Suatu sore di teras rumah yang agak mendung, menghabiskan senja bersama bapakku. Aku masih mengenakan baju putih abu-abu dengan sisa keringat di dahi dan areal ketiakku. Dengan sisa tenaga yang ada dan rasa jengkel kuhidangkan secangkir kopi kesukaan bapak yang dimintanya dengan senyum. Senyum itu sangat lembut namun punya arti yang dapat kucerna “awas kalau tak mau, besok uang jajanmu bapak kasih setengah”, begitulah kira-kira artinya walau tahu bapak bukan orangtua yang pelit.

notacavir

Aku menghidangkan bapak secangkir kopi itu bukan karena ancamannya dengan uang jajanku, tapi aku sadar badan bapak dua kali lebih besar dariku. Terlebih aku takut bila bapak mempraktekkan kuncian-kuncian seperti dalam beberapa episode WWE Smackdownn yang sering kami tonton setiap kamis malam.

Dua sendok kopi dan sesendok gula yang dipesan bapak kuhidangkan cepat bersama dengan segelas teh manis khusus untukku. Kami menikmati sore itu dengan sesekali bersuara. Aku tidak begitu tertarik untuk berbicara panjang lebar, hanya yang penting-penting saja. Kulihat bapak merogoh saku kaos berkerahnya, dikeluarkannya sebungkus rokok kretek beserta mancisnya (mancis = korek gas).

Aku suka cara bapak sebelum merokok, seperti hiburan tersendiri bagiku. Bapak terlebih dahulu mengintip celah bungkusnya sekedar tahu berapa batang lagi rokoknya tersisa. Biasanya bila tinggal dua batang lagi dia pasti menyuruhku mengambil rokok dari steling rokok jualan mamak sembari berpesan, “Jangan nampak sama mamak ya!”
Rokok itu kemudian dipelintirnya keliling. Aku sudah tahu tujuannya supaya tembakau dalam rokok itu rata dan baranya tidak soak karena bertemu potongan tembakau yang besar. Itu semua sudah pernah dijelaskan bapak jauh-jauh hari. Kunikmati pertunjukan singkat itu dengan teliti sampai bapak menyalakan rokoknya.

Aku sering bertanya kepada bapak kenapa suka merokok. Aku juga sering menyarankan bapak agar berhenti atau setidaknya mengurangi beberapa batang rokok dalam sehari. Saran yang sebenarnya dibisikkan dan dititipkan mamak kepadaku karena mungkin mamak sudah capek menasehati bapak.

Sore itu kuhabiskan senja bersama bapak dengan asap rokoknya yang mengepungku. Aku tak tahan bila harus menghirup sisa asap rokok yang dihisap oleh bapak. Sebelum menyelamatkan diri, aku masih sempat bertanya kepada bapak, “apa nikmatnya merokok pak?” Bapak terhenti sejenak. Diangkatnya cangkir kopi yang ampasnya sudah hampir turun semua. Bapak menyesap kopi itu sembari memandang kearahku. Disentilnya rokok kretek dijarinya hingga abunya jatuh kedalam asbak, kemudian dihisap kembali.

“Jangan sampai kau merokok ya! Awas kalau bapak tahu kau merokok!” kata bapak sembari mengacungkan jari telunjuk dan tengah yang menjepit rokoknya, dan asap rokok yang keluar dari mulutnya yang menampar kewajahku. Aku cuma mengangguk mantap.


Sementara itu...
Di satu warung makan di pinggir jalan.
Suatu sore yang pengap oleh gepulan asap kendaraan yang mulai memenuhi jalanan. Aku menikmati segelas air putih sambil memandang lalu lalang kendaraan itu. Segelas air putih ini adalah bonus yang diberikan pemilik warung karena sudah menghabiskan beberapa lembar uangku untuk menyantap makan siang di warung itu, yang masih jauh dari kata lumayan. Memang untuk hal makanan, aku punya kualifikasi sendiri, kualifikasi yang tentu saja didukung dompet pula. Tanggal 1 sampai 20an, makanan itu harus memenuhi kriteria. Tanggal 20 sampai akhir bulan, persetan dengan kriteria, makanan itu harus memenuhi perut.

Setelah menyantap sarapan siang biasanya aku bersendawa, tapi kali ini rasanya bersendawa belum bisa dituntaskan. Seorang gadis cantik di samping kananku dari tadi memaksa sikapku supaya terlihat keren. Gadis itu sibuk bersama paha ayam goreng yang dicabiknya serius, dengan dua tangan. Aku tak sampai hati melihat bagian tubuh ayam itu dipermainkan.

Kebiasaan lain yang sering kulakukan setelah makan siang adalah menghabiskan sebatang rokok sebagai pelengkapnya, kebiasaan yang kumulai beberapa tahun lalu. Dengan memelintir terlebih dahulu, kurogoh kantong celana meraih mancis biru. Mancis biru itu masih penuh gasnya karena jarang kupakai. Mancis itu seingatku adalah kepunyaan seorang kawan yang kugelapkan tapi lupa siapa orangnya, mungkin karena sudah terlalu sering beraksi. Bila ditanya, barangkali sudah puluhan mancis yang kuamini dengan senyum lebar sambil memainkan kepulan asap dimulut. Bermula dari kehilangan sebuah mancis yang baru kubeli dari minimarket, menyisakan bungkus rokok yang tinggal dua batang lagi, awal dari aksi-aksiku.

Orang bilang nikmat, sampai sekarang aku masih belum tahu dibagian mana nikmatnya kudapat.

Aku belum paham arti sebatang rokok selesai makan siang. Hingga sekarang pun kupahami, bahwasanya memang itu tak ada artinya. Aku menghabiskan beberapa ribu hanya untuk sesuatu yang tak punya arti. Seperti menghabiskan beberapa bulan waktuku dalam jalinan kasih, yang tak berujung namun serasa disudahi. Sambil menghirup asap rokok ini, kuamati lagi gadis disampingku yang menelan kunyahan terakhirnya.
“Buurrrrp” suara sendawa gadis itu yang memecah suasana. Dia hanya tersenyum mengangguk kepadaku seolah tidak terjadi apa-apa. Aku menahan nafas.

Kupalingkan pandangan kearah lain. Kulihat ada seorang ibu duduk di samping gerobaknya, seorang ibu yang usianya mungkin lima puluhan sedang menjajakan jualannya; buah-buahan yang dijual dengan potongan-potongan kecil. Seorang gadis turun dari angkot langsung menyambar lamunan ibu itu. Gadis itu nampak sangat beringas memilah-milah potongan buah kesukaannya kedalam piring plastik. Aku memandang mereka berdua dengan teliti, apalagi gadis itu cantik pula.

Dikeluarkannya dua lembar lima ribuan menjemput kantong plastik putih yang berisi potongan-potongan buah dari tangan si ibu itu. Si ibu tua memberikan uang kembalian lembaran dua ribu. Sempat terbesit dibenakku untuk membeli jajanan buah itu karna kelihatan segar dan menggiurkan, tapi urung karna tahu harganya delapan ribuan.
"Lebih baik kubeli setengah bungkus rokok" gumamku.

***

(PS: Bukan bermaksud mengguruimu, tapi merokok itu memang berbahaya bagi kesehatan. Jauhilah selagi bisa.)

------------------------------

#Tulisan ini ikut arisan godok bulan Maret. Tulisan ini berada diperingkat #5, i cant believe it!

Thursday, March 9, 2017

Sebuah buku..

41-Tamp.

Mengejar prinsip yang terlepas dari genggaman serasa memayungi adinda yang bergandeng tangan dengan pujaan. 
Jalan itu masih ada, berliku sudah pasti. 
Namun pintu sudah didepan mata. Tinggal hati untuk menuntun, kaki untuk melangkah.


Sore itu...
"Apa gerangan arti hidup ini bang?" Tanyaku kepada pemuda antik yang hampir saja pecah diusili waktu itu.

"Itu ibarat sebuah buku."

"Buku?"

"Ya. Sebuah buku. Kau harus menulisnya kata demi kata kedalam lembar demi lembar"

"Sesimpel itu? Adik perempuanku yang masih smp juga tau bang. Semest...."

"Sssttt... Kau juga harus membacanya lembar demi lembar, agar paham arti sebuah buku.
Kadang buku yang kita buatpun jarang kita baca sendiri.
Bagaimana orang akan membaca buku kita bila kita sendiri tidak, bahkan menyentuhnya pun jarang.
Rawatlah buku itu agar tetap utuh hingga sampai keanak cucu kelak." Katanya sembari menempelkan jari telunjuk kebibirku.


"Terus bagaim...."

"Sssttt..."

"Maksudk..."

"Sssttt..."

Friday, February 24, 2017

BERITA KEPADA KAWAN

notacavir



----Warung kopi, selain secangkir kopi, aku juga disuguhi oleh berlimpah ruah kuota wifi, gratiss pula. Diiringi silat lidah para tetua yang samar kudengar----

Apa kabar kawan. Apa kabar disana, para kawanan kawan. Sudah lama kita tidak ber-umpat ria. Saling meneriaki penuh kata yang semestinya tertuju pada lawan, tapi tersemat kepada kawan, dengan canda gurauan..

Aku benci bila harus menunggu rindu, rindu yang mekar silih berganti hari. Menunggu tentang masa dimana semuanya sudah tersiapkan olehku. Saat beban pikiranku sudah terkikis sedikit demi sedikit. Saat pikiran tak banyak menopang masalah lagi. Disitulah pasti kegilaan-kegilaan yang kita rindui terbalaskan tanpa takut disekat waktu. Sebait 'hahaha' untukmu. Tunggu saja sampai kutuntaskan kewajiban ini. Sampai habis sudah perjuanganku berbuah hasil. Sampai secangkir kopi ini juga punya kawan. Agar tak bosan berteman dengan sendok dan piring kecil (sudah berkali-kali kupesan agar sendok tidak usah ikut, apalagi piring kecil, mampus saja sekalian!).
----*Aku tak butuh teman sejati, yang menurutku hanya ada di serial kartun 'SPONGEBOB'. Aku tak ingin jadi Patrick, yang kadang lupa akan kawannya. Aku tak ingin jadi Spongebob, yang kadang menghindar dari si bodoh Patrick. Aku tak ingin jadi Squidward, yang tak butuh keduanya. Aku hanya ingin jadi Presiden*----

Kawan... Diwarung ini aku terngeong (terngeong: bersuara sekecil bisikan dengan pandangan kosong). Aku terus menikmati eonganku hingga terusik oleh pandangannya; dia yang mengantarkan secangkir kopi ke mejaku. Seorang gadis desa, yang bekerja sampai jam 12 pas, yang tutur bahasanya membuatku terpekik dalam hati, yang mencari-cari saat aku tak hadir dalam shift kerjanya.
Aku masih saja menerawang makna pandangannya. Untuk kali ini, pandangan yang dilepaskan beberapa detik padaku itu hampir tanpa senyuman. Berbeda dengan si Gendut temannya, yang acapkali memandang selalu diiringi dengan senyuman ala Mia Khalifa . Seakan lupa bahwa dia seorang pria..

----Gadis itu, barangkali dia jatuh hati atau apapun itu namanya. Caranya memandangku, seakan butuh, tapi enggan; seakan acuh, tapi penasaran. Mungkin dia berpikir, "Abang tampan yang disudut itu, kali ini bayar apa enggak sih?".----

Kawan, kalian itu seperti secangkir kopi. Mau berapapun harganya, pasti kubeli. Sepahit apapun rasanya, pasti kusesapi.
Untukmu kawan, aku saat ini sedang baik-baik saja. Hanya saja, kantongku sedikit bermasalah, entah karna sobekannya yang semakin melebar, atau karna kalender dikamarku yang semakin menanggal.
Entahlah...

Monday, February 20, 2017

SECANGKIR KOPI di MARS


What the fuq...
 



      Aku ingin memberikan standing applause buat jaman ini. Buat segala ketololan murninya. Ketololan yang sudah menjadi viral, disegala sendi-sendi bumi ini. Memotivasiku untuk menjadi seorang yang kaya berat, seberat perut sang mantan yang sudah berumur 2 bulan.
Aku ingin kaya, juga supaya kekayaan itu bisa membawaku terbang jauh ke planet Mars. Katanya di planet Mars permukaannya basah; 
aku bisa beternak babi disana. Tak susah-susah buat belanja kebumi lagi.
Udara yang hangat; aku bisa telanjang dada, tanpa ada yang mengira aku pamer tubuh atletisku yang belum jadi, ataupun seakan mengklaim bahwa diri adalah preman setempat (situasi yang kudapati. kupelajari dikota medan bila bertelanjang dada sudah dianggap orang sekitar sebagai preman, yang nyata-nyatanya suhu panas Medanlah yang menjadi pangkal masalahnya).
Tumbuhan bisa berfotosintetis; terbayang dibenakku untuk bercocok tanam, diantaranya padi, cabai, dan paling utama pohon kopi. Yap kopi.
Terbentuknya air; aku juga butuh mandi, aku juga harus mengkucek dua pasang pakaian yang kubawa, dan menyajikan secangkir kopi. Yang paling kuperlukan.

Disini, dibumi, diwarung asal jadi ini, secangkir kopi yang seharusnya kunikmati dengan lantunan tembang kenangan, harus diusik oleh segerombolan generasi-generasi yang haus akan ketololan. Generasi-generasi yang silih berganti datangnya, tak pernah padam. Memaksa lambungku yang sudah diserang bertubi-tubi bercangkir-cangkir kopi menjadi mual. Aku tak bisa lagi tertawa sindir karena sudah bosan.

         Aku harus ke Mars saat ini juga. Tak peduli dengan gravitasi, yang saat kunikmati secangkir kopi, mengambang bersama lengkap meja dan kursi. Tak peduli dengan temperatur disana, aku bisa meminjam kulkas Mamaku merek panasonik. Tak peduli dengan radiasi atau apapun halangan lainnya. Intinya aku ingin pergi ke Mars. Menikmati secangkir kopi sambil memandang bumi. Memetikkan lagu-lagu tembang kenangan, juga gubahanku dan sesekali tertawa.

Barangkali kujumpai sewujud Alien desa yang cantik, yang lari dari kawanannya, yang sepemikiran denganku. Dan kami memadu kasih, kuiringi dengan gitar lantunan nyanyiannya yang hanya berupa anggukan. Hingga akhirnya kami melakukan hal itu. Mempunyai seorang anak, Anak dengan kemampuan laser pemusnah dari ujung telunjuknya. Yang sangat patuh terhadap orangtua. Mungkin akan kusuruh dia untuk menjaga bumi, menjaga bumi dari meteor-meteor besar yang siap menghantamnya. Agar bumi aman, agar ketololan-ketololan itu dapat terpelihara dengan baik.

    Hampir saja aku lupa, lupa tentang skripsiku ini. Batu loncatanku menuju kekayaan. Dengan waktu yang semakin menipis dicicil setiap pertemuan. Berkopi-kopi sudah habis namun Bab demi Bab belum tersentuh.
Ah tololnya aku..........

Tuesday, July 23, 2013

Tuesday, January 1, 2013